Asas yang digunakan dalam organisasi Budi Utomo adalah kooperatif. Budi Utomo bertujuan untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Setelah Budi Utomo, muncullah pergerakan-pergerakan lain, seperti Sarekat Dagang Islam (SDI), Sarekat Islam (SI), dan Indische Partij.
Awalnya, pergerakan-pergerakan tersebut berasaskan kooperatif, namun dalam perkembangannya berubah menjadi nonkooperatif. Tujuan Budi Utomo semula adalah hanya berhubungan dengan perdagangan, sosial, agama, dan pendidikan.
Namun, kemudian pergerakan organisasi ini meningkat menjadi sebuah tuntutan Indonesia merdeka. Semua itu diyakini sebagai gerakan yang menjadi pondasi kesadaran nasionalisme yang kelak menjadi faktor pendorong dalam perjuangan meraih kemerdekaan.
Sebelumnya, gerakan rakyat melawan penjajah berlangsung secara sporadis dan tidak terorganisasi dengan baik. Namun, setelah lahirnya organisasi-organisasi tersebut, gerakan rakyat semakin menemukan arah dan tujuan yang pasti tentang masa depan bangsa yang diinginkan.
Kebangkitan nasional tidak hanya terjadi pada masa sebelum Indonesia merdeka. Namun, juga terjadi saat gerakan reformasi pada tahun 1998. Gerakan reformasi Mei 1998 telah mengantarkan bangsa Indonesia pada ‘kemerdekaan’ jilid kedua, yaitu lahirnya demokrasi dan kebebasan politik.