Salah satu contohnya yakni tradisi sesajen. Sesajen awalnya merupakan ritual persembahan makanan untuk para leluhur. Persembahan tersebut kemudian diubah, makanannya tidak lagi diperuntukkan kepada leluhur, tapi justru untuk masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Jika ada yang mengadakan suatu acara, maka warga sekitar akan diundang untuk mendoakan arwah atau orang yang sudah meninggal. Setelah doa selesai, masyarakat yang hadir akan disuguhi makanan sebagai bentuk terima kasih.
Tradisi yang kemudian dikenal sebagai kenduri atau kondangan ini masih bertahan sampai saat ini. Sunan Muria juga mengikuti cara Wali Songo sebelumnya, yaitu menciptakan sajak dalam berbagai tembang yang sudah ada dalam masyarakat.
Sunan Muria juga mengubah sajak dalam tembang Kinanti dan tembang Sinom. Tembang Kinanti memiliki makna kasih sayang orang tua terhadap anak. Sedangkan, tembang Sinom berisi petuah untuk para remaja.
Sunan Muria menjunjung tinggi toleransi terhadap tradisi Jawa yang sudah ada. Pada zaman itu, masyarakat Jawa sangat kuat menjalankan tradisi sehingga Islam butuh waktu agar diterima masyarakat. Sunan Muria melakukan akulturasi antara budaya Jawa dan budaya Islam dengan tidak mengurangi nilai luhur dari budaya yang sudah ada.