Kisah Kiai Mojo, Ulama Ahli Strategi Perang Gerilya yang Jadi Kepercayaan Pangeran Diponegoro

Donatus Nador
Kiai Mojo, sosok ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang mengandalkan strategi gerilya. (Foto: Istimewa)

Pasukan Kiai Mojo lalu digiring ke Klaten, lalu dibawa ke Batavia, ditahan hingga setahun lamanya. Di awal 1830, Kiai Mojo bersama lebih dari 60 orang pengikutnya dibuang ke Minahasa. Istrinya menyusul setahun kemudian.

Kebanyakan pendampingnya itu punya posisi strategis dalam bidang kemiliteran dan keagamaan dalam pasukan Diponegoro. Mereka tiba di Tondano dan mendirikan Kampung Jawa di sana. Kiai Mojo wafat di tempat pengasingan pada 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Roh perjuangan Kiai Mojo tertuang dalam manuskrip berbahasa Jawa huruf pegon yang ditulisnya di Tondano, Minahasa, sekitar awal tahun 1833. Tertulis dalam manuskrip itu kalimat "berjuang untuk kepentingan kemaslahatan para hamba Allah semua, untuk kesejahteraan negeri, serta untuk kepentingan kelestarian agama Islam".

Editor : Rizal Bomantama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

AS dan Iran Saling Serang di Tengah Negosiasi Damai 

57 tahun lalu

Iran Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS Pakai Rudal Murah Buatan China?

57 tahun lalu

Dua Copet HP Turis Belanda di Tanah Abang Ditangkap, Aksi Terekam CCTV

57 tahun lalu

Prabowo: Perang di Mana-Mana, Kita Bersyukur Tak Terlibat tapi Waspada

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal