Dari situ, akhirnya ia berhasil diterima beasiswa LPDP. Bahkan, ia ingat pertanyaan yang diajukan pewawancara saat itu apabila ia tidak lolos seleksi beasiswa lagi. Namun ia mengaku tidak akan menyerah.
“Tidak masalah Pak, dan Bapak akan ketemu saya lagi untuk apply. Karena saya tidak mungkin menyerah. Pasti saya coba lagi," cerita dia.
Yudha pun bisa berkuliah di Australia untuk menempuh studi Master of Education TESOL Teaching English to Speakers of Other Languages) di Wollongong University. Di sana, ia memanfaatkan banyak kesempatan, salah satunya mengikuti pertukaran dosen ke Polandia selama tiga bulan.
Di sana, ia turut membantu pembentukan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Polandia. Baginya, itu adalah pengalaman berkesan yang membuat guru bahasa Inggris ini sumringah kala mengenangnya.
“Hidup cuma sebentar dan saya perlu meninggalkan legacy kepada keturunan saya. Jadi saya perlu menjadi orang yang berbeda dan menjadi sumber karakter yang dapat mereka pelajari dan jadikan panutan," kata Yudha.
Bagi Yudha, LPDP adalah beasiswa yang sangat cocok untuk mereka yang memiliki kepedulian dalam membangun negeri lewat kontribusi sosial. Seperti yang sudah dilakukan Yudha dengan berbagai kegiatan sosial dan dedikasi untuk banyak orang.
Semoga kisah inspiratif di atas bisa menambah semangat kita dalam menempuh pendidikan ya!