Selain itu, keluarganya juga belum mendukung karena kondisi ekonomi yang sulit. Alfath tak putus asa begitu saja, ia berusaha meyakinkan keluarganya.
“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kenang dia.
Ia pun mulai mengumpulkan biaya mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dengan bekerja sebagai kuli bangunan.
“Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” katanya.
Di sela kerja penuh waktu dari pagi hingga sore, Alfath tetap menyisihkan waktu belajar di malam hari. Bahkan menjelang ujian, ia mengatur waktu dengan empat hari bekerja, tiga hari penuh di akhir pekan untuk belajar.