Hanif mengatakan, pemilihan Universitat Pompeu Fabra bukan tanpa alasan. Salah satunya karena sang Ayah yang merupakan mantan pemain sepak bola dan mengidolakan sang GOAT (Greatest of All Time), Lionel Messi, yang 19 tahun membela Blaugrana (Barcelona).
“Meski Messi sudah pindah klub, tetap saja Barcelona menjadi sesuatu yang istimewa. Ini bisa menjadi cerita dan kebanggaan tersendiri buat Ayah. Barcelona yang dulu melekat dengan Messi kini menjadi tempat belajar anaknya. Di sana saya bisa banyak belajar, Apalagi banyak museum. Ya, sekaligus mewujudkan impian orang tua,” tutur dia.
Tak lupa, ia pun membagikan tips agar lolos program IISMA, yakni harus mengembangkan skill dan minimal kemampuan bahasa asing. Kedua, manfaatkan kesempatan. Kalau gagal jangan menyerah, tetapi jadikan bahan bakar untuk kembali bangkit.
Ketiga, menyeimbangkan akademik dan non-akademik, karena di IISMA IPK juga menentukan. Keempat, ikut program belajar bahasa Inggris jauh-jauh hari dan secara berkala ikut tes untuk mengetahui level atau skor bahasa Inggris.
Kelima, konsultasi dengan awardee IISMA sebelumnya, termasuk untuk mengetahui bagaimana membuat esai. Selain itu, konsultasi dengan dosen atau kenalan sekaligus untuk mereview esai.
“Kalau sudah ikhtiar, kita serahkan dengan doa. Doa kita ya doa orang tua. Saya harap ke depan makin banyak mahasiswa UNESA yang lolos program IISMA,” tutup dia.