“Di lokasi Jembatan Kretek 2, terdapat Sesar Opak. Sesar ini merupakan sesar aktif sehingga potensi terjadi gempa bumi dan pergerakan tanah. Oleh karenanya, kami menggunakan teknologi LRB (Lead Rubber Bearing) untuk meredam gempa, lalu juga menggunakan MSE Wall untuk daerah timbunan. Selain itu, mengantisipasi terjadi likuifaksi, kami menggunakan soil replacement sedalam 3 meter untuk menggantikan tanah yang terlikuifaksi, dan penancapan tiang pancang dilakukan sampai ke lapisan tanah yang tidak terlikuifaksi,” tutur Julian.
Sebagai informasi, pembangunan Jembatan Kretek 2 menelan dana Rp364 miliar yang berasal dari dana loan Islamic Development Bank (IsDB). Jembatan ini akan memiliki empat lajur dan dua jalur. Di atas jembatan akan terdapat jalur khusus untuk pejalan kaki, namun tidak berupa trotor melainkan pedestrian yang dipisahkan dengan barrier.
Jembatan Kretek 2 menggunakan struktur atas PCI girder dengan bentang utama 40 meter dengan pondasi bored pile untuk jembatan utamanya. Sementara untuk jembatan pendekat menggunakan slab on pile dengan pondasi tiang pancang yang berdiameter 80 sentimeter. Jembatan ini nantinya juga akan dipercantik dengan hiasan oleh ornamen khas DI Yogyakarta dan dilengkapi dengan artlighting.
“Untuk ornamen, digunakan beberapa ornamen yang tentunya merupakan ciri khas Yogjakarta. Antara lain Luku yang bentuknya seperti bajak, lalu di railing ada ornamen burung, dan PJU (Penerangan Jalan Umum)-nya menggunakan konsep padi. Kami berkoordinasi dengan seniman di Jogja dan melakukan asistensi kepada Pemprov DIY. Selain ornamen, juga akan dipasang artlighting sepanjang jembatan utama sehingga permainan cahaya pada malam hari akan membuat jembatan ini akan terlihat lebih indah,” pungkas Julian.
Di Provinsi DI Yogyakarta tengah ditangani 3 paket pekerjaan Jalur Pansela sepanjang 17,32 km yakni penanganan Jembatan Kretek 2, ruas Legundi-Planjan di Kabupaten Gunungkidul sepanjang 4,7 kilometer, dan ruas Jeruk Wudel-Baran-Duwet di Kabupaten Gunungkidul (10,6 kilometer).
(CM)