Imbas dari realisasi ini turut menopang pencapaian fundamental ekonomi Indonesia yang tumbuh impresif di level 5,61 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh dua faktor utama, yakni lonjakan belanja pemerintah yang melesat hingga 21,81 persen dengan pangsa 6,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi kontributor mayoritas dengan porsi 54,4 persen dan tingkat pertumbuhan mencapai 5,52 persen.
Eksekusi anggaran yang proporsional sejak awal tahun terbukti memberikan stimulus langsung pada pergerakan sektor riil. Kucuran dana untuk berbagai proyek strategis secara otomatis memacu geliat investasi dan daya beli publik secara bersamaan.
"Ya karena, ya dengan melakukan disiplin konsumsi tepat waktu ini di kuartal I ya kita keluarkan more than 20% untuk konsumsi secara disiplin, maka kelihatan tumbuhnya tinggi dan ini menciptakan efek multiplier yang baik, baik di sisi konsumsi maupun di sisi investasi," papar Herman.
Menilik laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), efek ganda dari sisi produksi terlihat sangat meyakinkan. Sektor-sektor esensial seperti pertanian, informasi dan komunikasi, hingga akomodasi makan dan minum tercatat mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.
Bahkan, sektor industri pengolahan dan perdagangan tampil sebagai tulang punggung utama dengan sumbangsih masing-masing mencapai lebih dari 10 persen dari total PDB nasional.
Pola pengelolaan anggaran yang sehat ini pada akhirnya menjadi pakem baru bagi jajaran bendahara negara. Kualitas belanja tidak lagi sekadar dinilai dari seberapa besar dana yang dihabiskan, melainkan seberapa presisi waktu penyalurannya demi menghasilkan dampak ekonomi.
"Jadi ini yang kami sebut di dalam Kementerian Keuangan spending yang berdampak karena government expenditure atau government spending yang bagus itu adalah government spending yang disiplin, berdampak, dan tepat waktu. Itulah yang kami coba jaga dari Kementerian Keuangan," tutur Herman.