Dia berharap kerja sama yang dibangun dapat menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali program-program akademik lintas negara. “Kita harus melakukan inisiatif lagi agar program ini terlaksana setelah kita menandatangani MoU,” ujarnya.
Vuthy menjelaskan, kerja sama pendidikan tinggi tidak boleh berhenti hanya pada penandatanganan nota kesepahaman. Menurutnya, kerja sama ini harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata seperti penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga program profesor tamu.
Dalam kesempatan itu, Ith Vuthy juga mengungkapkan masih terdapat sejumlah tantangan dalam membangun kolaborasi pendidikan lintas negara. Mulai dari perbedaan kurikulum, bahasa, budaya, hingga keterbatasan pendanaan.
Dia menilai kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu faktor penting bagi mahasiswa maupun dosen yang ingin terlibat dalam program internasional. “Bahasa adalah hambatan besar bagi kami. Karena itu peserta harus memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang baik,” katanya.