"Format ini kan baru digunakan dan merupakan usaha agar debat lebih baik. Kita tunggu saja pelaksanaannya," ujarnya.
Dia meyakini pemaparan visi-misi paslon sifatnya normatif, sementara pertanyaan panelis mengarah pada hal teknis. Sehingga, ketika format pertanyaan terbuka digunakan, maka jawabannya pun tidak bersifat normatif.
Sunanto mencontohkan ketika paslon berbicara akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, hal itu harus spesifik dan rinci, keadilan terkait apa yang ingin dicapai.
"Kalau itu dilakukan maka masyarakat tahu apa yang akan diperbuat pemimpinnya lima tahun ke depan, bukan jawaban yang normatif," katanya.
Dia mengakui selama ini debat capres-cawapres banyak berkutat pada hal-hal yang normatif. Karena itu, format pertanyaan terbuka bisa dikatakan langkah terobosan agar jawaban yang disampaikan paslon tidak bersifat teknis, yang akan diperbuat.