Ketiga, makanan. Lebaran identik dengan perayaan yang penuh dengan suguhan makanan, apalagi untuk menyambut tamu yang datang ke rumah sudah pasti diperlukan kebutuhan makanan yang harus disiapkan.
“Alokasi pengeluaran ini terkadang membengkak, maka kita perlu menyiasati, salah satunya dengan memasak dan membuat kue Lebaran sendiri,” tuturnya.
Keempat, angpau Lebaran. Pengeluaran ini tentu menjadi sebuah kebutuhan yang harus dilengkapi, angpau menjadi tradisi yang lekat juga dengan perayaan hari raya Idulfitri. Oleh karena itu, perlu direncanakan jumlah dan nominal yang harus dijadikan angpau agar ada batasan, tentu unsur merata menjadi penting dalam pemberian angpau.
Kelima belanja pakaian. Tidak ada kewajiban memakai baju baru saat Lebaran, namun kondisi ini terkalahkan dengan tradisi yang ada di masyarakat yang seakan-akan bahwa baju baru merupakan keharusan.
“Maka apabila seseorang mengalokasikan belanja pakaian harus hati-hati dan mengontrol pengeluaran ini. Upayakan mencari pakaian yang memberikan potongan harga lebih sehingga tetap bisa menghemat,” kata dia.
Terakhir, dana darurat. Sekali pun Lebaran adalah momen sekali dalam setahun, menurut Fatkur masyarakat tetap harus berpikir tentang dana darurat. Sebab, dana darurat memiliki fungsi yang penting, yakni untuk mengcover apabila terjadi persoalan selama kita mudik, upayakan dana ini dalam bentuk tunai yang tersimpan.
“Sehingga apabila kita mudik di daerah pedesaan yang jauh akses ATM maka ini menjadi solusi. Catatan bahwa dana darurat hanya dikeluarkan saat kondisi benar-benar mendesak,” tutup Fatkur.