Setelah sidang disertai, Samsul dinyatakan lulus. Samsul pun inisiatif membuat kartu namanya sendiri dan diberikan kepada para profesor dan pembimbing pendamping yang telah membantunya.
“Saya mulai dengan membuat kartu nama sendiri dan diberikan kepada beliau-beliau. Di Jepang, saling bertukar kartu nama adalah hal yang biasa. Sepulang sekolah, terus keep contact dengan beliau-beliau untuk membangun dan menjaga relasi,” ujar Samsul.
Tak berselang lama, ia mendapat rekomendasi untuk mendaftar di sebuah research center kampus Okayama University. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan dirinya hingga akhirnya dinyatakan lolos.
Samsul tak pernah menyangka bisa bekerja di Jepang sebagai asisten profesor dan mampu menyandang gelar S3. Ia mengaku sangat bersyukur atas segala kesempatan yang diberikan tersebut.
“Tak pernah terbayang bisa menjadi assistant professor di luar negeri, apalagi di Okayama University, Jepang. Bisa mengenyam pendidikan di Jepang sudah sangat bersyukur. Alhamdulillah, dapat bonus tambahan bisa belajar menjadi akademisi di sini. Hal ini tercapai berkat doa serta didikan Bapak Ibu saya, guru-guru, dosen, serta diiringi ikhtiar belajar dan bekerja keras dengan baik. Semoga saya bisa berkontribusi dengan baik dan terus menjadi yang lebih baik ke depan,” kata Samsul.