Infanteri Modern yang Multioperasi

iNews.id
Kunto Arief Wibowo (Foto: Istimewa)

Tak kurang 3.550 prajurit diturunkan yang terbagi atas berbagai spesialisasi keahlian. Fokus utama adalah tanggap darurat dan minimalisir korban. Di sinilah peran besar Infanteri yang terbiasa bergerak taktis, mengomandoi berbagai kegiatan. 

Di saat semua masih sibuk dalam urusan koordinasi dan “terkaget-kaget” karena bencana begitu mendadak sekaligus masih galau karena goyangan tetap terasa, Infanteri harus terus bergerak. 

Di setiap titik kumpul, dapur lapangan disiapkan, prajurit berseragam loreng sibuk masak memasak. Ini adalah tanggap darurat.

Pascabencana, saat berbagai lembaga sudah masuk, Infanteri terus bekerja. Dapur sudah ditutup, hidup bergerak normal, namun di lokasi bencana masih ada persoalan. 

Pembersihan, pembenahan, pembangunan darurat harus dilakukan. Bencana di masa datang harus diantisipasi. Maka penanaman pohon, normalisasi wilayah menjadi prioritas.

Kasus Cianjur tentu hanya sebagian kecil dari contoh kasus persoalan non-militer yang harus diselesaikan oleh Korps Infanteri. Tetapi semua punya satu kata kunci, yaitu keamanan dan kenyamanan masyarakat. 

Gempa memang tak bisa dicegah atau diprediksi, tapi kesiagaan saat tanggap darurat bisa meminimalisir korban. Itu hanya bisa dilakukan oleh satuan yang terbiasa, dan di situlah Infanteri harus berperan. Sekali lagi, prajurit bukan relawan, tapi punya tanggung jawab sebagai bagian dari pembinaan teritorialnya.

Hambatan bukan tidak ada, pasti. Pada situasi darurat, kepanikan bisa terjadi, bahkan tidak menutup kemungkinan ada yang “menangguk di air keruh”. Inilah yang harus dijaga dan selalu ditanamkan. 

Kita melihat persoalan bencana di negara ini terjadi karena lemahnya manajemen bencana, belum maksimalnya edukasi ke masyarakat, belum siaganya lembaga pemerintah untuk menghadapi situasi mendesak dan tidak adanya sistem komunikasi bencana yang maksimal. Akibatnya, banyak pula yang “mencari muka” di saat penduduk kesusahan. Sangat disayangkan.

Kepada prajurit, selalu ditekankan, dekatilah bencana dengan kemanusiaan. Tak masalah masyarakat beragama apa, bersuku berbeda, pekerjaan beragam, yang dilihat adalah sisi kemanusiaan. 

Itulah esensi komunikasi sosial, wajib dipegang teguh. Kesampingkan perbedaan, selamatkan rakyat. Jika ada prajurit yang melenceng, sanksi sudah menunggu. 

Oleh karena itu, pada momentum ulang tahun Infateri kali ini, transformasi semangat Infanteri diperkuat pada semangat Komunikasi Sosial dengan pendekatan kemanusiaan. Tema besar HUT kali ini adalah TNI AD di Hati Rakyat. 

Infanteri tak akan hilang di bumi, karena Infanteri ada di hati. Masalah boleh bertambah, konflik bisa berubah, tapi Infanteri tetap jaya. Selamat Hari Juang TNI AD ke-77 dan Selamat Hari Infanteri ke-74.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Nasional
8 hari lalu

TNI AD Harap Masalah Penjual Es Kue Jadul Tak Berlarut, Tegaskan Salah Paham

Nasional
9 hari lalu

Potret TNI Kerahkan Alat Berat, Bersihkan Tumpukan Kayu di Aceh Utara

Nasional
11 hari lalu

Jembatan Bailey Rampung, 2 Desa di Langkat Sumut kembali Terhubung

Nasional
21 hari lalu

Sertijab TNI AD, Mayjen Novi Rubadi Sugito Resmi Jabat Pangdam Tanjungpura

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal