"Keuntungan apa yang diperoleh oleh terdakwa dengan memberikan dana talangan Rp400 juta kepada Harun Masiku, sementara ketika terdakwa diundang Harun Masiku ke Tana Toraja dan undangan terhadap Natalan pun, terdakwa tidak mau menghadirinya," jelas Hasto.
Hasto menilai satu-satunya yang bisa mengaitkan dirinya dengan perkara ini adalah rekayasa hukum. Dia mengatakan telah terjadi memanipulasi fakta melalui keterangan Saeful Bahri dan Donny Try Istiqomah
"Sehingga ketika terdakwa melakukan teguran keras terhadap Saeful Bahri atas perintah dari Harun Masiku pun dipelintir oleh penuntut umum sebagai pengetahuan terdakwa dari awal terhadap dana operasional," kata Hasto.
Padahal, menurutnya, teguran ke Saeful Bahri merupakan cerminan sikapnya yang meyakini meminta dana saja dilarang, apalagi melakukan penyuapan.
"Di sinilah penuntut umum telah mengambil logika dan kesimpulan yang salah akibat ketidakmampuan menghadirkan alat-alat bukti," kata dia.