Haji dan Humanisme

iNews.id
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar MA Ph.D. (dok. UIN Jakarta)

Menjadi pemandangan yang sering dijumpai, saat seorang tokoh agama tempatan mengkisahkan pengalaman dalam meunaikan ibadah haji. Di antara jemaah yang mendengarkan, ada yang berlatarbelakang lansia. Dari garis wajahnya, samar-samar terlihat, asa yang masih terus diperjuangan. Ia menyimak keterangan pengalaman haji dengan seksama, menandakan ia mempunyai harapan bahwa kelak dirinya akan dapat berangkat haji. 

Penggambaran di atas tentu bukanlah menjadi sajian imajiner semata. Hal tersebut adalah realita yang dapat ditengok di pengajian-pengajian kecil maupun besar di sekitar Ibukota, bahkan juga di kampung-kampung kecil di wilayah urban. Pongahnya gedung yang semakin meninggi, tidak menggerus niat sebagian umat muslim untuk berhaji. Jikapun di tahun ini belum berkesempatan berangkat haji, maka mereka akan seanantiasa menunggu dengan kesabaran dan seanantiasa memperbaiki perangai dan sikap mereka sehari-hari, agar jika tiba masanya, mereka telah menjadi tamu yang layak datang dan bertetirah di Rumah Tuhan. 

Melayani Tamu Allah 

Dalam sejumlah penggal pemberitaan, haji tahun ini menunjukkan totalitas para panitia haji dalam bekerja. Mereka tidak gentar menerjang teriknya matahari Arab Saudi untuk memberikan pelayanan terbaik pada jemaah haji, khususnya para lansia. Terlihat beberapa pemandangan yang membuat hati terenyuh, seperti adanya cuplikan para panitia haji yang menggotong jemaah haji lansia untuk berangkat ke suatu tempat yang tentunya berkenaan dengan satu dari mata rantai ritual dalam haji. Jika ritual itu tidak dilakukan oleh seorang jemaah haji, maka berpotensi ibadah hajinya tidak sempurna dari sudut pandang syariat Islam. 

Membopong tubuh seorang lansia tentu bukan pekerjaan yang mudah. Kerapkali keletihan segera menyergap tubuh para petugas haji, dikarenakan sebelumnya mereka telah melakukan pekerjaan yang mungkin menguras tenaga dan pemikiran mereka. Ini bukan hanya sekedar gimik, melainkan adalah realita yang umum ditemukan sepanjang penyelenggaraan haji, bahkan di tahun-tahun sebelumnya. Tentu, ini adalah sesuatu yang perlu diapresiasi, dikarenakan semakin menandakskan profesionalitas para panitia haji yang senantiasa sigap memecahkan segenap masalah, bahkan yang muncul tanpa terduga sebelumnya. 

Di samping profesionalisme pelayanan haji, terdapat sisi kemanusiaan yang dapat dituai dari petikan kejadian di atas. Bekerja, dalam perspektif Islam, adalah ladang amal bagi pelakunya. Menuntaskan suatu pekerjaan merupakan suatu prestasi yang layak diapresiasi, terlebih jika aktivitasnya berkenaan dengan kemanusiaan. Membantu orang yang kesulitan adalah contoh dari laku humanis yang paling sederhana. Melakukannya secara kolektif, adalah suatu penampilan yang menyejukkan dan berpotensi menyebarkan energi positif bagi rekan-rekannya yang lain untuk senantiasa memberikan pelayanan prima bagi para jemaah haji. 

Editor : Reza Fajri
Artikel Terkait
Seleb
5 hari lalu

Pernyataan Lengkap Chiki Fawzi Dituduh Haji Gratisan Jalur Nebeng Petugas Haji

Nasional
7 hari lalu

Masjid IKN Berpeluang Jadi Lokasi Pantau Hilal Ramadan 2026

Nasional
7 hari lalu

Kemenag Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 pada 17 Februari

Nasional
15 hari lalu

Biaya Makan Jemaah Haji 2026 Turun jadi 36 Riyal, Pemerintah Hemat Rp123 Miliar

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal