Energi Terbaharukan
Transisi energi menjadi krusial dan urgen untuk dilakukan. Hal ini demi mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan membatasi suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celcius pada 2050 sesuai Persetujuan Paris. Memperkuat transisi energi yang berkeadilan, membutuhkan pendanaan yang berkelanjutan dan inovatif.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam sambutannya pada seri seminar G20 berjudul “Unlocking Innovative Financing Schemes and Islamic Finance to Accelerate a Just Energy Transition In Emerging Economies” mengatakan, Indonesia telah memiliki peta jalan transisi energi untuk mencapai neutral karbon pada 2060 atau lebih cepat.
“PLN melalui rencana bisnis penyediaan energi nasional pada 2021-2023 juga telah menargetkan rencana bisnis yang lebih bersih dengan menambah pembangkit listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan hingga 51,6 persen. Indonesia telah merencanakan untuk membangun nusantara super grid guna mendorong pengembangan energi terbarukan, dan juga menjaga stabilitas dan keamanan kelistrikan,” tuturnya.
Arifin juga menambahkan, bahwa setidaknya Indonesia membutuhkan investasi untuk transisi energi sekitar 1 triliun Dolar Amerika pada 2060.
“Oleh karena itu, Indonesia terus menjalin kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara mitra dan lembaga keuangan internasional untuk menemukan mekanisme pendanaan yang inovatif,” katanya.