Upaya memperkuat diplomasi film Indonesia juga didorong oleh hubungan bilateral yang semakin erat, termasuk setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menegaskan komitmen untuk memperluas kerja sama budaya.
Di ajang Cannes, partisipasi Indonesia tidak hanya terbatas pada satu program, tetapi juga melibatkan berbagai platform industri seperti Cannes Docs, Producer’s Network, hingga SFC Rendezvous Industry. Sejumlah sineas Indonesia juga aktif dalam forum seperti Annecy Animation Film Festival dan Critics’ Week.
Di tingkat nasional, Kementerian Kebudayaan mendorong program National Talent Management (MTN) Film untuk membuka akses bagi sineas dari berbagai daerah. Langkah ini bertujuan agar industri film Indonesia tidak terpusat di Jakarta, melainkan tumbuh dari keberagaman wilayah.
Fadli Zon menekankan bahwa kekayaan budaya Indonesia, yang mencakup ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan ratusan kelompok etnis, menjadi modal utama untuk memperkuat daya saing sinema nasional di mata dunia.
Pemerintah juga melihat platform streaming sebagai mitra, bukan ancaman bagi bioskop. Keduanya dinilai dapat berjalan berdampingan dalam memperluas akses penonton terhadap karya film Indonesia.