"Kalau sudah masuk area urban, tentu risiko penyebarannya menjadi lebih besar," katanya.
WHO juga melaporkan adanya kematian pada tenaga kesehatan. Hal ini dinilai menjadi tanda bahwa penularan kemungkinan sudah terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan.
Tak hanya soal penularan, kondisi sosial di wilayah terdampak juga memperumit situasi. Prof Tjandra menjelaskan, beberapa daerah terjangkit mengalami konflik dan gangguan keamanan. Lebih dari 100 ribu warga bahkan dilaporkan mengungsi.
Di sisi lain, terdapat kawasan pertambangan dengan aktivitas dan perpindahan manusia yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat penyebaran virus antardaerah.
Yang paling menjadi tantangan, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.
"Dengan lima perkembangan ini, maka tentu kita harus lebih meningkatkan pengawasan dan mempersiapkan kegiatan antisipasi yang diperlukan," ujar Prof Tjandra.
Dia menegaskan, dunia perlu meningkatkan kewaspadaan, mulai dari pengawasan kesehatan, kesiapan rumah sakit, hingga deteksi dini di pintu masuk negara untuk mencegah penyebaran lebih luas.