Untuk itu, legislator dari Fraksi PKS ini menilai, perlu diperhatikan sumber daya di sekolah untuk mengajarkan bahasa asing.
"Berapa bahasa asing yang bisa diajarkan sebetulnya tergantung dengan SDM-nya. Kita juga memberi kebebasan kepada sekolah dan siswa untuk memilih ingin belajar apa saja," ucap Ledia.
Namun, ia menilai, hal itu tetap bergantung pada kemampuan sekolah, apalagi sekolah negeri. Ia berkata, sekolah negeri memiliki keterbatasan, pun dengan sekolah swasta menengah ke bawah.
"Jadi, kita tidak bisa memukul rata bahwa semua sekolah harus belajar bahasa tertentu, karena memang SDM-nya terbatas. Kecuali anak-anak disuruh belajar saja pakai AI. Tapi, siapa yang mau mengevaluasi? Siapa yang mau memeriksa pronunciation-nya? Siapa yang mau memeriksa grammar-nya? Siapa yang mau mengukur kemampuan mereka?" kata Ledia.
"Jadi, memang PR besarnya adalah kita tidak memiliki cukup guru bahasa asing untuk ditempatkan di sekolah-sekolah, apalagi di sekolah-sekolah daerah tertinggal," pungkasnya.