JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan instrumen aset keuangan digital baru yang akan dijadikan acuan (benchmark) bagi pengembangan stablecoin di Indonesia. Hal ini sekaligus memperkuat ekosistem investasi digital yang aman dan kredibel.
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dicky Kartikoyono menjelaskan, salah satu masalah utama stablecoin saat ini adalah tidak adanya acuan nilai yang jelas, karena sebagian besar stablecoin dipatok pada aset kripto seperti bitcoin yang tidak memiliki penerbit resmi dan sangat fluktuatif.
"Problem utama stablecoin saat ini benchmark-nya tidak jelas, karena dipatok ke bitcoin yang tidak ada yang menerbitkan," ucap Dicky dalam RDPU Fit and Proper Test Calon Deputi Gubernur BI Bersama Komisi XI DPR, Senin (26/1/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dicky mengatakan, BI dalam waktu dekat akan melanjutkan Proyek Garuda sebagai pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang berfungsi sebagai alat pembayaran, sekaligus menyiapkan instrumen baru untuk kepentingan investasi.
Instrumen investasi digital tersebut dirancang dalam bentuk SRBI digital (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang didukung oleh Surat Berharga Negara (SBN) sebagai aset dasarnya.
"Kami akan terus lakukan uji coba dalam bentuk digital SRBI, sebuah instrumen aset keuangan digital yang di-backup oleh SBN,” tuturnya.