Alhasil, Sandi bersama timnya membuat survei yang hasilnya, tingkat elektoral masih di bawah 1 persen. Namun, Prabowo tetap ingin Sandi bertarung di Pilgub DKI Jakarta 2017.
"Akhirnya, Pak Prabowo menyampaikan kepada saya, 'Enggak, kamu bisa'. Akhirnya saya keliling. Hampir 1,5 tahun saya keliling, dari 2015 akhir sampai 2016, itu elektabilitasnya mulai meningkat, tetapi masih sangat rendah," ucapnya.
"Nah, pada saat itu, saya jujur aja di depan Bimtek (Bimbingan Teknis) Perindo ini, saya super enggak pede lawan Pak AHY. Saya bilang, 'Wah, ini kan anaknya presiden, saya tuh siapa?' gitu. Walaupun waktu itu Pak Ahok kuat, saya gimana caranya finish di posisi kedua, paling tidak," tuturnya.
Sandi pun berkonsultasi dengan koleganya. Akhirnya, dia harus mencari pasangan yang paling memungkinkan bisa mendulang suara.
"Dan terus terang pada saat itu enggak banyak pilihan. Sampai-sampai itu partai kita, waktu itu ada selain Perindo ya, ada PKS dan Gerindra, itu Google. Sampai nge-Google gitu kita, belum ada ChatGPT pada saat itu, siapa pasangan yang paling cocok," ujarnya.