Sigit mengungkapkan, dari hasil analisis, kecelakaan paling banyak terjadi pada rentang waktu 09.00 hingga 12.00, dengan total 532 kejadian.
Jam tersebut dinilai rawan karena meningkatnya aktivitas masyarakat di jalan, baik untuk bekerja, perjalanan antarkota, maupun mobilitas harian.
"Selain faktor kepadatan lalu lintas, kondisi pengemudi juga dinilai berpengaruh terhadap meningkatnya angka kecelakaan pada jam tersebut," ungkapnya.
Dalam evaluasi tersebut, penyebab kecelakaan paling dominan adalah gagal menjaga jarak aman, dengan jumlah 1.156 kasus. Penyebab lain yang juga sering terjadi adalah kelalaian terhadap kendaraan di depan serta faktor kecepatan.
"Kelelahan dan mengantuk saat berkendara masih menjadi faktor yang sering memicu kecelakaan, terutama pada perjalanan jarak jauh," ucap Sigit.
Sigit mengatakan hasil analisis ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian dalam meningkatkan sosialisasi keselamatan berlalu lintas, terutama menjelang periode mudik dan arus balik yang diperkirakan memiliki mobilitas tinggi.
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat akan terus digencarkan agar angka kecelakaan bisa ditekan lebih rendah pada tahun 2026.
Upaya tersebut meliputi kampanye keselamatan, pengawasan di titik rawan, serta peningkatan patroli di jam-jam yang dinilai memiliki risiko tinggi kecelakaan.