Fenomena tersebut tergolong cukup jarang terjadi, meski bukan termasuk peristiwa astronomi yang sangat langka. Rata-rata Blue Moon hanya muncul sekitar dua hingga tiga tahun sekali.
BRIN menjelaskan, nama Blue Moon hanyalah istilah yang digunakan untuk menyebut bulan purnama tambahan yang kemunculannya tidak terlalu sering.
"Karena sifatnya yang relatif jarang, istilah Blue Moon kemudian populer digunakan dalam budaya populer untuk menggambarkan sesuatu yang tidak sering terjadi," ungkap BRIN.
Puncak fase purnama Blue Moon diperkirakan terjadi pada 31 Mei 2026. Namun, bagi masyarakat Indonesia, waktu puncaknya berlangsung pada sore hari sehingga Bulan belum dapat diamati secara optimal.
Karena itu, BRIN menyarankan masyarakat menikmati fenomena tersebut setelah malam tiba, ketika Bulan mulai terbit dan terlihat jelas di langit timur.