Di sisi lain, Sandi juga menyoroti fenomena perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Menurutnya, hal itu turut meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung yang berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat, infrastruktur, ketahanan pangan dan aktivitas sosial ekonomi.
Untuk memitigasi dampak itu, Sandi mendesak pemerintah dan masyarakat untuk melakukan kesiapsiagaan bencana. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan sosialisasi dan edukasi zona megathrust ke seluruh lapisan masyarakat, peta risiko dan jalur evakuasi hingga tingkat RT dan RW.
"Pengetahuan adalah tameng terbaik. Masyarakat harus didorong untuk menguasai protokol Lari, Jauh, Tinggi saat terjadi gempa besar di pesisir," kata dia.
Di sisi lain, dia menilai perlu adanya penguatan sistem peringatan dini atau early warning system dan cuaca dengan memastikan berfungsinya alat alat sensor peringatan dini atau seismic sensor.
"Latihan simulasi evakuasi bencana, tidak hanya untuk bencana gempa tsunami, tapi juga bencana karena cuaca ekstrem yang mungkin terjadi secara bersamaan. Hal ini sangat penting sehingga masyarakat terlatih adaptasi rencan kontinjensi," ucap Sandi.