Urip menjelaskan, kelembapan udara yang relatif tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi jni ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.
Urip mengatakan dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM2,5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain sehingga akumulasi konsentrasinya yang terukur di alat monitoring. Alibatnya, terjadi penurunan kualitas udara di Jakarta dan memengaruhi kesehatan masyarakat.
“Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung diri, seperti masker yang sesuai untuk dapat mengurangi tingkat paparan terhadap polutan udara,” tutup Urip.