Namun, ketika kerajaan Majapahit runtuh, wayang kulit beserta gamelan dibawa ke Demak. Hal ini karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menyukai kesenian karawitan dan pertunjukan wayang.
Hanya saja, terjadi kontroversi terhadap wayang karena pengikut agama Islam beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram. Sebab, kesenian tersebut berbau budaya Hindu.
Untuk menghilangkan kesan berbau budaya Hindu dan pemujaan kepada arca, maka diciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan gambaran manusia, yakni wayang purwa. Wayang kulit berasal dari bahan kulit kerbau yang ditipiskan.
Wayang kulit ini dibuat dengan dasar putih dan dicat dengan tinta. Tokoh yang menciptakan wayang kulit adalah Sunan Kalijogo. Pada masa kerajaan Demak itulah munculnya wayang kulit.
Meskipun dalam pagelarannya masih mempergunakan lakon baku dari kitab Ramayana dan Mahabarata. Namun, sudah dimasukkan unsur-unsur dakwah untuk penyebaran agama Islam.