“Dari hasil evaluasi, kami mencatat bahwa rata-rata gaji alumni MSIB mencapai Rp5,5 juta, atau 98,62% lebih tinggi dibandingkan data Survei Angkatan Kerja Nasional. Sebanyak 16,52% mahasiswa magang dan 6,25% peserta studi independen menerima tawaran kerja langsung dari mitra. Ini adalah prestasi yang membanggakan,” kata Wamendiktisaintek Stella Christie.
Program ini juga menjembatani kesenjangan sosial, dengan 33% peserta berasal dari keluarga kurang mampu dan 12,44% dari orang tua yang tidak lulus SD. Wamen Stella menambahkan,
“Program ini menghadirkan keadilan sosial dalam akses pengalaman kerja. Kami ingin agar magang menjadi bagian dari sistem pembelajaran, bukan hanya aktivitas tambahan. Oleh karena itu, penting agar pengalaman ini direkognisi menjadi sks di kurikulum program studi.”
Wamen Stella berpesan agar mahasiswa menjalani program Magang Berdampak dengan sungguh-sungguh.
“Ambil inisiatif, dengarkan, serap, dan manfaatkan pengalaman magang ini sebagai ruang belajar baru yang berbeda dari kampus. Jangan sampai kalian hanya menjadi penonton, ini kesempatan untuk benar-benar bertumbuh dan berkontribusi,” pesan Stella.
Dengan peluncuran Program Magang Berdampak 2025 ini, Kemdiktisaintek berharap dapat memperkuat sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat. Program ini diharapkan tidak hanya menciptakan lulusan yang siap kerja, tetapi juga lulusan yang mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan pembangunan bangsa.
Program Magang Berdampak 2025 merupakan langkah strategis revolusioner dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Dengan fokus pada pengalaman kerja nyata, keadilan sosial, dan pembentukan agen perubahan, program ini siap mencetak generasi masa depan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat luas.