“Kami memberi waktu sampai lokasi disterilkan, bahkan dalam kondisi sunyi total. Namun hingga tadi pagi tidak terdeteksi tanda-tanda kehidupan. Karena itu, tahap berikutnya diputuskan dengan menggunakan alat berat,” jelasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga hari keempat, total korban tercatat 108 orang. Dari jumlah itu, 103 orang selamat, 5 orang meninggal dunia, sementara 59 korban masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan.
Suharyanto menegaskan, angka 59 masih bersifat dinamis.
“Mudah-mudahan tidak sebanyak itu. Bisa saja beberapa santri ternyata berada di tempat lain dan belum melaporkan diri. Kita tetap berdoa ada keajaiban,” katanya.
Dalam operasi ini, lebih dari 212 personel gabungan TNI, Polri, Basarnas, BNPB, hingga ahli teknik sipil dari ITS dikerahkan. Mereka bekerja siang malam untuk memastikan evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian, meski sudah menggunakan alat berat.
“Penggunaan alat berat pun dilakukan perlahan, tidak sembarangan. Tujuannya agar tidak menimbulkan risiko tambahan dan tetap aman bagi korban maupun petugas,” tutur Suharyanto.
Pemerintah menegaskan evakuasi akan dilakukan sampai seluruh korban ditemukan. BNPB juga memastikan keluarga korban dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“Kami berharap keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan menghadapi musibah ini. Semua langkah kami dasarkan pada persetujuan keluarga dan demi kepentingan terbaik bagi para korban,” kata Suharyanto.