Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi

iNews
Firman Kurniawan S, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Pendiri LITEROS.org (Foto: Istimewa)

Dalam tulisannya, "Using Bits and Bytes to Fight Corruption", Amit Roy Choudhury, 2025, menyebut: Diella bertugas menangani semua keputusan pengadaan pemerintah dan memastikan 100% proses itu dipahami. Kemunculan robot menteri itu tak tiba-tiba. Badan Masyarakat Informasi Nasional Albania telah membangunnya sejak Januari 2025, berdasar model Azure OpenAI dan Microsoft AI. Keberadaannya memungkinkan warga Albania memperoleh layanan pemerintah secara digital. Targetnya, seluruh keputusan tender yang biasa dilakukan masing-masing kementerian diambil alih robot AI itu. Diella dapat mempekerjakan talenta digital dari seluruh dunia untuk mendukung pekerjaannya.

Keputusan Pemerintah Albania mengubah fantasi futuristik jadi nyata. Agen nonmanusia bekerja, berinteraksi, bahkan pada suatu saat beradu argumentasi dengan manusia. Lebih mengagumkan lagi, manusia yang selama ini jadi penentu keputusan akhir tak menduduki posisi itu. Era posthuman diwujudkan Diella. 

Robot AI yang diharapkan memberantas korupsi, mengawali kerjanya setelah input data. Data berupa syarat teknis maupun administratif, untuk menjadi pemasok terpilih. Terhadap data itu, machine learning mempelajari seluruhnya dan membangun algoritma yang mengategori kelayakan pemasok. Saat proses dijalankan lebih lanjut oleh deep learning, robot AI dapat memetakan peluang terjadinya kegagalan pasokan oleh peserta lelang terpilih. AI dengan data-data kaya yang tersedia, mampu membangun wawasan tak terduga yang ketika mengandalkan manusia, tak terjangkau.  

Mengikuti uraian itu, titik-titik rawan subjektivitas dapat dikenali dan dieliminasi. Subjektivitas penilaian akibat suap yang memengaruhi pengambilan keputusan juga akibat nepotisme yang dapat mengubah keputusan. Seluruh subjektivitas yang memfasilitasi terjadinya korupsi. Jadi lain keadaannya, ketika proses-proses yang rawan subjektivitas dilakukan robot AI. Robot AI menyusun keputusan, hanya berdasar data yang telah diinput pada sistem. Ini tampaknya yang menjadi tujuan Pemerintah Albania, eliminasi subjektivitas demi hilangnya korupsi. 

Utopia pemberantasan korupsi yang mengandalkan robot AI jadi niscaya. Utamanya saat akar masalahnya adalah subjektivitas manusia. Namun menjadi tak tercapai, ketika mempertimbangkan AI blackbox. Fenomena ini adalah keadaan-keadaan yang tak selalu dipahami saat menggunakan AI, tak dipahami penggunanya, juga oleh cerdik pandai yang mengembangkan AI. Keadaan yang tampaknya lebih tepat disebut misteri AI. Baru terungkap saat ada keganjilan. Itu penjelasannya tak memberi kepastian. Baru ketika peluang-peluang teoritisnya dipetakan, kebolehjadiannya dapat diperkirakan. Tingkatannya pun diperkirakan, belum dipastikan. 

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kenalan dengan Diella, AI yang Jadi Menteri Pemberantasan Korupsi Albania

57 tahun lalu

Pertama di Dunia! Albania Tunjuk AI sebagai Menteri Pemberantas Korupsi

57 tahun lalu

"Efek Kupu-Kupu" Artificial Intelligence pada Nasib Peradaban

57 tahun lalu

Urgensi Aturan Perlindungan terhadap Bahaya Artificial Intelligence

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal