Di depan sekolahku ada jalan raya. Di dekat parkiran kendaraan sekolahku ada GSG. Di samping kiri kelasku ada beberapa kelas dan ada kantor guru. Itulah sekolahku, sekolah yang menjadi tempat untukku menuntut ilmu.
Ayah, Panutanku
Ayahku bernama Abu Salman. Ayah berpostur sedang, berumur sekitar 54 tahun. Rambutnya putih beruban. Di dagunya terdapat bekas cukur jenggot putih di dagunya. Kulit ayahku kuning langsat. Wajah ayah tipikal Batak dengan rahang yang kuat dan hidung mancung tapi agak besar. Matanya hitam tajam dengan alis tebal. Sepintas ayahku seperti orang India.
Meskipun kelihatannya mengerikan, ayahku orang yang sabar. Wajahnya teduh dan selalu tersenyum menghadapi masalah apa pun. Ya, ayahku adalah orang yang paling sabar yang pernah aku kenal. Tidak pernah terlihat marah-marah atau membentak.
Beliau selalu menunjukkan perasaannya lewat gerakan bermakna di wajahnya. Jika melihat anaknya membandel, ayah hanya menggeleng sambil berkata lirih untuk membujuknya. Tidak seperti orang Batak yang logatnya agak keras, ayahku sangat pendiam. Beliau yang irit kata, lebih suka memberi contoh langsung kepada anaknya tanpa perlu menggurui. Bagai air yang mengalir tenang, tetapi sangat dalam. Beliau adalah teladan bagi anak-anaknya.
Sepatu Baru Temanku
Saya punya teman dekat. Dia cantik, menarik dan trendi. Dia selalu ingin menjadi trend setter hari ini. Dia selalu membayar banyak perhatian pada penampilannya. Baru-baru ini, dia membeli kaki stylist baru dari produk sepatu blowfish. Sepatu ini sangat cocok dengannya.