Namun, tidak ada yang bisa memastikan apakah Salomon, yang kala itu melakukan perjalanan untuk meneliti tumbuhan dan binatang di kepulauan di Indonesia, benar-benar menginjakkan kaki di Tandjong Serandjana tersebut.
Selanjutnya, pada peta yang dibuat tahun 1868, Saranjana dituliskan K. Sarandjana, yang berarti Kampung Saranjana. Perubahan penulisan nama ini bisa jadi menunjukkan pula adanya perubahan yang berlangsung di Saranjana sehingga menjadi perkampungan.
Kota gaib Saranjana disebut kota yang tak kasat mata dan tak bisa dilihat oleh orang awam. Kota ini dikatakan dapat dilihat dengan mata batin. Tak hanya itu, banyak yang menyebut Saranjana sebagai sebuah kota berperadaban maju dengan jajaran gedung menjulang tinggi bak kota impian. Meski tidak tampak, keberadaan Kota Saranjana diyakini oleh masyarakat Kalimantan.
Terdapat cerita yang kerap didengar masyarakat dan beredar dari mulut ke mulut mengenai kedatangan alat berat ke wilayah tersebut. Alat berat seperti ekskavator dan buldoser yang datang itu merupakan pesanan dari Jakarta dengan alamat tujuan Kota Saranjana.
Uniknya, pesanan tersebut sudah lunas dibayar oleh pengirimnya. Kisah yang disebut terjadi pada 1980-an itu tentu membuat heran. Pasalnya, tidak ada daerah bernama Saranjana di wilayah Kabupaten Kotabaru.