Ozil, yatim piatu mandiri sejak usianya 7 tahun. Sejak kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, ia diasuh oleh kakeknya. Meski renta, kakeknya mampu menghidupinya dengan berladang, mengambil hasil bumi untuk makan, sisanya dijual untuk sekolah.
Kini usianya 12 tahun. Tepat 2 hari lalu kakeknya berpulang. Ozil yang hanya tinggal di gubug reyot tidak mampu mengurus jenazah kakeknya. Beruntung warga desa tempatnya tinggal peduli dan bersedia membantu hingga selesai.
Namun hanya sampai disitu, tidak ada seorangpun menawarkan untuk tinggal bersama. Ozil, bagaimanapun harus bertahan hidup sesuai wasiat kakeknya. Ada ladang beberapa petak untuk diurus sebagai bekalnya.
Hanya itu, tidak ada lagi yang tersisa. Dari menggarap ladang sendirian yang diharapkannya hanyalah dapat makan setiap hari. Sekolah? Tidak lagi terpikirkan olehnya karena faktor biaya.
Meski hidupnya berat, keyakinan akan masa depan memberinya kekuatan. Setidaknya sebagai wujud baktinya terhadap kakek, Ozil harus menggarap ladang hingga menghasilkan. Untuk dirinya sendiri dan orang yang membutuhkan.