"Aku terus berusaha keluar dari zona setan, tapi ujung-ujungnya aku terjerumus kembali. Aku pun sadar bahwa semua yang aku miliki ini bersifat sementara. Di kehidupan selanjutnya, aku pun harus mempertanggungjawabkannya. Karenanya, aku harus bisa keluar dari jebakan ini, demi menggapai tujuan hidup yang sebenarnya."
"Jangan sampai nafsu sesaat dan bisikan setan itu menggangguku lagi. Jangan sampai bayang-bayang kenikmatan kehidupan dunia mengalahkan kekekalan abadi di sana. Jangan sampai nafsu ini mengalahkan logika dan akal yang diberikan Sang Pencipta."
"Aku akan mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana seorang pendosa bertaubat. Aku yakin tidak akan menjadi bertambah hina jika seorang pendosa memulai taubatnya. Sang pendosa. Ya, mungkin itulah julukan yang tepat untuk saya. Tapi, saya tau Allah tak hanya melihat awal ketaatan seseorang, namun juga akhir dari taatnya."
Judul: Bertemu Sahabat
Aku masih ingat pagi itu, dimana ada seorang anak manusia yang termenung dan diam sesaat ia terbangun dari tidur pulasnya. Anak tersebut sama sekali tak melakukan apapun, selain melamun dan juga terdiam. Tubuhnya pun hanya disandarkan pada tumpukan bantal yang disusun tinggi.
Sampai pada akhirnya, anak tersebut pun mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Namun, pandangan matanya tetap saja kosong. “Hari ini aku sangat malas untuk sekolah. Hari ini, aku benar-benar merasa tidak sanggup lagi untuk bersekolah.” Ia pun menarik napas sejenak kemudian kembali berbicara