Begitu pula ada kendala berupa keterbatasan ketersediaan SDM kesehatan terlatih, yang berdampak pada kualitas layanan. Sebagai contoh, program CKG di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sempat terkendala karena alat pemeriksaan tidak tersedia secara memadai.
Lebih lanjut, hasil temuan sejauh ini mengungkapkan bahwa masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah masalah gigi, hipertensi, diabetes, dan obesitas. Menyoroti hal ini, Partai Perindo mendorong adanya pendampingan pemberian edukasi upaya pengelolaan gaya hidup sehat serta tindak lanjut yang jelas terhadap hasil pemeriksaan tersebut.
“Kalau sudah ditemukan masalah seperti tekanan darah tinggi atau kadar gula yang tidak normal, harusnya ada follow-up dari faskes setempat. Program CKG harus dibarengi dengan edukasi dan pendampingan lanjutan agar dampaknya terasa nyata”, tambah alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat ini.
Selain itu, keberadaan aplikasi Satu Sehat yang seharusnya menjadi tulang punggung sistem pencatatan dan pelaporan juga belum sepenuhnya dapat diimplementasikan secara efektif, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital. Hambatan koneksi internet menyebabkan sejumlah hasil pemeriksaan tidak tercatat secara real-time dan berpotensi menghambat tindak lanjut pasien.
Oleh karena itu, untuk wilayah-wilayah tersebut perlu disediakan opsi layanan langsung di fasilitas kesehatan agar seluruh masyarakat yang berhak mendapatkan pemeriksaan kesehatan tidak tertinggal.