Fakta pertempuran 10 November 1945 yang jarang diketahui adalah Inggris berniat menjaga ketertiban. Hanya saja, masyarakat Surabaya tidak ingin wilayahnya kembali diduduki oleh penjajah.
Pada September 1945, Inggris datang ke Surabaya dengan tujuan ingin mengambil senjata prajurit Jepang dan membebaskan tawanan perang, serta menjaga ketertiban di wilayah tersebut. Melansir Jurnal Inovasi Penelitian (2021) bertajuk ‘Pertempuran Surabaya Tahun 1945 dalam Perspektif Perang Semesta’, sayangnya Inggris tidak menjaga suasana kondusif, namun mengultimatum masyarakat yang memiliki senjata agar menyerahkannya.
Oleh karena itu, rakyat Surabaya khawatir kota dan negaranya akan dijajah lagi dan melakukan perlawanan.
Sosok Bung Tomo sudah pasti sangat melekat apabila berbicara mengenai pertempuran 10 November 1945. Ia berhasil mendidihkan semangat juang rakyat Surabaya dengan berpidato di radio.
Pidatonya itu bahkan ia akhiri dengan takbir. “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” begitu kutipan akhir Bung Tomo.