Pengamen Ondel-Ondel Marak di Pinggiran Jakarta, Ini Kata Budayawan Betawi

Dimas Choirul
Muhammad Refi Sandi
Budayawan Betawi Ridwan Saidi. (Foto: dok. Okezone).

Ridwan mengakui tidak ada sejarah ondel-ondel dijadikan sarana mengamen. Ondel-ondel dulu hanya dipakai untuk kegiatan ritual atau tradisi menyambut panen. 

"Bahasa betawinya Babarit--menyambut panen. Enggak ada ongkos-ongkosan," kata dia.

Menurutnya, ondel-ondel dijadikan sarana mengamen mulai marak pada kurun tujuh sampai delapan tahun belakangan. Dia mengingatkan, meski dianggap meresahkan oleh sebagian orang, namun di sisi lain pengamen ondel-ondel secara tidak langsung justru mengenalkan budaya betawi kepada masyarakat, terutama anak-anak.

Harus Sesuai Pakem dan Aturan

Hal senada diungkapkan Budayawan Betawi sekaligus Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Andi Yahya Saputra. Dia tak mempermasalahkan ondel-ondel dipakai sebagai alat mengamen asal tetap sesuai pakem dan aturan. 

Menurut Andi, sebetulnya mengamen kesenian tradisional sudah ada sejak dulu. Pada masa lampau, Pemerintah State Batavia atau Pemerintah Kota Batavia mengizinkan dan memberi ruang tersendiri untuk kesenian tersebut digunakan untuk mencari rezeki. 

Budayawan Betawi Andi Yahya Saputra. (Foto: MPI/M Refi Sandi).

“Termasuk ondel-ondel, tanjidor, bahkan kesenian kesenian besar mereka ngamen. Tapi, ngamen sesuai aturan, jadi boleh ngamen pada jam sekian, boleh ngamen pada lokasi ini, boleh ngamen dengan menjaga keselamatannya dan tentu saja harus sesuai dengan pakem," ucap Andi kepada iNews.id di Kantor LKB Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (14/6/2021). 

Dia menambahkan, pada zaman dahulu kesenian yang tidak sesuai pakem akan mendapatkan denda atau tidak diperbolehkan ngamen. Karena aturan itu, pemerintah kolonial juga mendapatkan pajak dari mereka.

Dia juga mengingatkan, pakem dalam kesenian ondel-ondel mereka harus sepasang, yakni laki-laki dan perempuan. Sebab, ada simbol equilibrium yang memiliki arti keseimbangan ada siang ada malam, ada laki ada perempuan, kita manusia ada yang maha kuasa dan dia harus diiringi musik hidup. 

Adapun seniman yang mengamen harus tertib menghormati waktu, dirinya, termasuk menggunakan seragam. Artinya, mereka juga harus menjaga ketertiban dan keamanan. Sebab, apabila mereka menggangu ketertiban, otomatis mereka akan dihalau pemerintah termasuk dilarang untuk ngamen. 

"Nah memang kemudian ondel-ondel yang kita lihat di jalan, ngamen itu, perbuatan oknum yang mereka tidak menghargai dirinya sendiri. Kedua, mereka tidak tau apa itu makna dan fungsi ondel-ondel, serta mengganggu ketertiban karena mengamen sembarangan, menghinakan dirinya kemudian minta minta duit segala macam itu bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan oleh oknum-oknum itu," tuturnya.

Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait
Megapolitan
27 hari lalu

Pramono Larang Ondel-Ondel Dipakai buat Mengamen, Minta Satpol PP Tertibkan

Megapolitan
27 hari lalu

Hore! Pramono Siapkan LPDP Jakarta, Beasiswa untuk Anak Betawi ke Luar Negeri

Kuliner
28 hari lalu

Wajib Coba! Dodol Jadi Primadona di Lebaran Betawi 2026

Destinasi
28 hari lalu

Intip Keseruan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Ada Replika Rumah Adat!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal