“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert, dikutip Minggu (7/6/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari langkah Pemprov jakarta untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
Menurut Dudi, sistem tersebut akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari sebelumnya, pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan yang diperlukan. Di sisi lain, masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan perlindungan diri sejak dini.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” kata Dudi.
Dia menambahkan, informasi prakiraan kualitas udara akan sangat bermanfaat bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Menurutnya, warga dapat mengambil langkah antisipatif, seperti menggunakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara diperkirakan memburuk.