8 Banjir Besar Jakarta, Begini Kedahsyatannya

Zen Teguh Triwibowo
Banjir besar menerjang Jakarta pada 2015 lalu. (iNews.id/Yudistiro Pranoto)

Berikut 8 banjir terbesar yang pernah terjadi di Jakarta:

1872
Hujan deras yang mengguyur Batavia selama beberapa hari menyebabkan Kali Ciliwung meluap. Banjir pun merendam sejumlah wilayah, termasuk kawasan elite Harmoni. Banjir besar itu juga menyebabkan pintu air di sekitar Taman Wilhelmina (saat ini dekat Masjid Istiqlal) jebol. Banjir besar inilah yang kemudian mengilhami pemerintah kolonial Belanda membangun Bendung Katulampa.

Bendung Katulampa menjadi semacam sistem peringatan dini banjir yang akan menerjang Jakarta akibat luapan Ciliwung sehingga para pejabat tinggi Hindia-Belanda bisa mengantisipasi. Bendung Katulampa mulai dibangun pada 1889 dan dioperasikan 1911.

"Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten. (Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup." (Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912).

1918
Hujan deras berlangsung 22 hari dari Januari hingga awal Februari 1918. Lapangan Banteng (Waterlooplein), Tanah Tinggi, Kemayoran Belakang, Glodok, dan Kampung Lima menjadi kawasan terparah yang terendam. Banjir makin mengerikan saat Kali Grogol meluap. Ribuan rumah terendam dan ratusan ribu warga mengungsi di beberapa tempat seperti Pasar Baru dan Weltevreden (Menteng). Selama beberapa hari aktivitas warga terhambat.


1979
Banjir terbesar setelah 1918. Hujan deras pada pertengahan Januari menyebabkan banjir yang menggenangi ribuan hektare wilayah DKI. Tercatat sekitar 714.861 warga terpaksa mengungsi. Jakarta Selatan yang biasanya relatif aman pun tak berdaya. Dalam buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa disebutkan bahwa pada tahun ini Pondok Pinang bahkan terendam 2,5 meter dan 3 orang menjadi korban. Hingga 23 Januari 1979, jumlah korban hilang mencapai 20 orang. Gubernur Tjokropranolo menyebut banjir 1979 adalah banjir 12 tahun sekali.

Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait
Megapolitan
3 hari lalu

Jalan DI Pandjaitan Jaktim Banjir, Sejumlah Motor Mogok gegara Terobos Genangan

Megapolitan
4 hari lalu

Daan Mogot Jakbar Macet Parah saat Banjir, Pramono Pertimbangkan Bangun Flyover

Megapolitan
6 hari lalu

BPBD DKI: Seluruh Titik Banjir Jakarta Sudah Surut

Megapolitan
7 hari lalu

Banjir di Kebon Pala Jaktim Surut, Warga Sibuk Bersih-Bersih Rumah

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal