Batu tersebut memiliki tekstur berbutir kasar dan mengandung mineral piroksen dan olivin. Permukaannya juga seperti kaca, kemungkinan karena panas tinggi yang membakarnya saat jatuh melalui atmosfer Bumi.
"Jadi, itulah petunjuk pertama mereka bahwa ini bukan sekadar batu besar di tanah," ujar Hatton.
Meteorit tersebut pernah dipamerkan di Badan Antariksa Italia, Roma.
Tidak jelas kapan tepatnya meteorit tersebut menghantam Bumi, namun pengujian menunjukkan kemungkinan terjadi dalam beberapa tahun terakhir.