Meski demikian, WHO menegaskan negara lain tidak perlu menutup perbatasan atau menghentikan perdagangan dan perjalanan internasional. Menurut WHO, langkah tersebut sering kali dilakukan karena kepanikan dan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi DR Congo. Virus mematikan ini diyakini berasal dari kelelawar dan menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau melalui luka terbuka pada kulit.
Gejalanya dimulai dari demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan. Kondisi kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, ruam, pendarahan hebat, hingga gagal organ.
Hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar terbukti menyembuhkan Ebola. WHO mencatat tingkat kematian akibat penyakit ini rata-rata mencapai sekitar 50 persen.
Sepanjang 50 tahun terakhir, sekitar 15.000 orang di berbagai negara Afrika dilaporkan meninggal akibat Ebola. Wabah paling mematikan di DR Congo terjadi pada 2018 hingga 2020 dengan korban jiwa hampir 2.300 orang.
Tahun lalu, wabah Ebola di wilayah terpencil negara tersebut juga menewaskan sedikitnya 45 orang.