Sebelum itu, China memberikan definisi yang sempit mengenai orang meninggal akibat Covid-19 yakni hanya mereka yang mengalami gagal pernapasan. Dengan begitu kasus kematian akibat Covid-19 di China hanya sekitar 5.500 orang.
Kurangnya transparansi ini membuat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mendesak China untuk memberikan informasi lebih tepat waktu sehingga akan memudahkan dalam membuat penilaian risiko menyeluruh atas situasi di lapangan.
Data Universitas Peking, jika dibandingkan dengan kasus infeksi di Australia yakni 43 persen dari populasi, lebih masuk akal ketimbang angka yang diberikan otoritas China.
Kasus kematian yang dilaporkan pemerintah China terbaru ditambah dengan 5.300 sebagaimana dilaporkan sebelumnya menunjukkan rasio fatalitas kasus kumulatif 0,07 per 1.000 kasus. Ini masih di bawah dibandingkan dengan 1,5 per 1.000 di Australia, negara yang memiliki sistem layanan kesehatan lebih baik.
Tingkat vaksinasi di kalangan lansia China juga terbilang rendah. Ini bisa dikaitkan dengan data kasus kematian dari pemerintah, di mana sebagian besar melibatkan kelompok usia 65 tahun dan lebih.