Kritikan muncul atas inisiatif Thailand menggelar pertemuan tersebut karena berarti memberikan legitimasi terhadap pemerintahan junta militer Myanmar. Selain itu insiatif tersebut dinilai tidak pantas karena di luar kesepakatan perdamaian yang dibuat ASEAN, Konsensus 5 Poin.
Ada pula yang mempertanyakan, mengapa Thailand baru menggelar pembicaraan sekarang, padahal negara itu diperkirakan akan memiliki pemerintahan baru pada Agustus mendatang. Partai-partai koalisi pro-militer kalah dalam pemilu pada 16 Mei oleh kelompok progresif dan populis.
Anggota ASEAN lainnya menolak undangan Thailand, termasuk Indonesia yang tahun memegang keketuaan. Singapura juga tak akan datang. Menlu Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan terlalu dini untuk terlibat pembicaraan dengan junta militer, baik di tingkat menteri maupun pemimpin negara.
Pemerintah Vietnam juga menegaskan menlunya tidak akan hadir karena komitmen dengan kesepakatan dengan ASEAN.
Malaysia juga menyatakan tidak hadir, berdasarkan keterangan dari dua sumber pemeritnahan yang mengetahui masalah tersebut.
Filipina belum menjawab pertanyaan hingga Minggu pagi. Namun posisi negara itu tegas berada di kubu yang mengisolasi para jenderal Myanmar.