Data Kpler menunjukkan, hanya 14 kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz di kedua arah sepanjang Rabu (8/7/2026). Jumlah tersebut menjadi yang terendah sejak AS dan Iran menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad mengenai gencatan senjata pada 17 Juni.
Sebagai perbandingan, rata-rata terdapat 34 kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 3 pekan setelah penandatanganan MoU tersebut. Aktivitas pelayaran bahkan sempat mencapai puncaknya pada 24 Juni dengan 59 kapal tanker melintas dalam sehari.
Dalam kondisi normal, ketika konflik bersenjata berlangsung, biasanya kurang dari 20 kapal melintasi selat strategis itu setiap harinya. Penurunan hingga hanya 14 kapal menunjukkan besarnya dampak eskalasi terbaru terhadap arus perdagangan energi global.
Selain penurunan jumlah kapal, gangguan elektronik juga terdeteksi di kawasan Teluk Oman. Sejumlah kapal yang berada di lepas pantai Oman terpantau bergerak dengan kecepatan sedikitnya 30 knot.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya aktivasi sistem pertahanan untuk mengantisipasi serangan drone terhadap infrastruktur vital. Penggunaan sistem itu berpotensi mengganggu sinyal transponder kapal sehingga menyulitkan pemantauan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.