Konsepnya bukan tsunami biasa, ledakan nuklir bawah laut dekat pesisir dapat mengangkat volume air besar sekaligus menyebarkan material radioaktif. Dalam skenario ekstrem, terutama jika desain hulu ledak besar yang diklaim oleh beberapa sumber benar, gelombang besar dan kontaminasi radioaktif pesisir bisa terjadi.
Namun, skala pasti efek (tinggi gelombang, jarak dampak, pola kontaminasi) bergantung pada yield, lokasi ledakan, kedalaman, topografi dasar laut, serta banyak variabel teknis lainnya.
Banyak pengamat menilai kemungkinan efek terbesar masih spekulatif dan bergantung pada parameter yang dirahasiakan.
Kremlin dan pejabat Rusia menyebut uji coba Poseidon dilakukan sesuai prosedur dan perjanjian notifikasi internasional, serta menegaskan kemampuan senjata itu untuk menembus sistem pertahanan lawan. Namun komunitas internasional dan analis luar negeri menekankan, sebagian besar detail teknis tetap terklasifikasi, beberapa angka yang beredar merupakan estimasi atau klaim pihak tertentu yang belum terverifikasi independen.
Keberadaan sistem seperti Poseidon memunculkan dilema strategis. Di satu sisi Rusia mengklaimnya sebagai alat penangkal yang meningkatkan pencegahan (deterrence). Namun di sisi lain, karakter senjata tsunami radioaktif menimbulkan pertanyaan serius soal hukum humaniter internasional, dampak lingkungan jangka panjang, dan eskalasi risiko nuklir.
Beberapa pengamat berpendapat bahwa Poseidon lebih banyak memainkan peran simbolis/psikologis ketimbang mengubah keseimbangan strategis secara drastis, sementara yang lain mengingatkan potensi bahaya nyata jika benar-benar dioperasikan.