Surovikin pernah terlibat kasus yang mengharuskannya masuk penjara dua kali. Pertama, dia dipenjara selama 6 bulan setelah seorang anak buahnya membunuh tiga demonstran di Moskow. Peristiwa itu terjadi selama kudeta Agustus 1991, menjelang berakhirnya Uni Soviet. Setelah itu Surovikin dibebaskan.
Empat tahun kemudian dirinya kembali diadili atas perdagangan senjata ilegal. Namun, hukuman tersebut kemudian dibatalkan.
Surovikin dituduh mengawasi pengeboman brutal yang menghancurkan sebagian besar Kota Aleppo, Suriah. Rusia saat itu membantu pasukan rezim Bashar Al Assad.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Oktober 2020, Human Rights Watch menetapkan Surovikin sebagai salah satu komandan yang bertanggung jawab atas pelanggaran selama serangan 2019-2020 di Idlib, Suriah.
Sementara itu dalam perang Rusia-Ukraina, Surovikin pernah ditugaskan dalam serangan ke selatan. Kementerian Pertahanan Rusia, pada akhir Juni lalu, mengklaim pasukan Surovikin melenyapkan pasukan utama Ukraina yang mengepung Gorskoye, Luhansk.
Penunjukan pria yang dijuluki Jenderal Armagedon itu merupakan bagian dari perombakan di militer Rusia. Kehadiran Surovikin diharapkan dapat menghindari Rusia dari kerugian lebih besar akibat serangan balasan Ukraina.