"Open Society Foundations milik George Soros, yang aktif sejak 1990-an, dengan lebih dari 8 miliar dolar AS di seluruh dunia dan mendukung kelompok-kelompok seperti TIFA, mungkin juga berkontribusi," ujarnya, kepada kantor berita Rusia Sputnik.
Keterlibatan lembaga-lembaga tersebut menimbulkan pertanyaan tentang agenda asing terhadap Indonesia.
"Ini terkait dengan fokus Indo-Pasifik baru-baru ini di tengah ketegangan seperti konflik Kamboja-Thailand, yang mengisyaratkan motif geopolitik," kata Giuliano.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti konkret yang membenarkan klaim tersebut. Pemerintah Indonesia pun belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan campur tangan Soros dalam aksi-aksi unjuk rasa yang sempat menimbulkan kerusuhan di beberapa kota besar.
Lewat OSF, Soros telah menyumbangkan lebih dari 30 miliar dolar AS untuk berbagai program sosial, mulai dari pendidikan, kebebasan pers, hingga hak minoritas. Namun, aktivitas filantropinya sering dituding sebagai alat untuk memengaruhi politik suatu negara.
Bagi para pendukungnya, Soros adalah pejuang demokrasi dan kebebasan. Namun, bagi para pengkritiknya, dia dianggap sebagai simbol campur tangan asing yang merusak stabilitas politik dalam negeri.