Pembunuhan anak-anak yang tidak disengaja, misalnya, lebih mungkin terjadi akibat penelantaran oleh ibu dan pelecehan oleh ayah atau ayah tiri, menurut studi itu. “Ini mencerminkan apa yang kita ketahui tentang pola gender dalam tanggung jawab pengasuhan anak dan kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga,” ungkap para peneliti yang terlibat dalam riset itu, dikutip Reuters, Rabu (20/1/2021).
Dalam kasus di mana anak-anak dibunuh dengan sengaja, perempuan cenderung membunuh bayi dan anaknya yang baru lahir, terutama dalam keadaan kehamilan yang tidak diinginkan. Pelaku seperti itu kebanyakan berusia muda dan memiliki tingkat dukungan sosial yang rendah—meskipun kasus semacam itu juga semakin sering dilaporkan terjadi di kalangan perempuan berusia lebih tua.
Para ibu juga lebih mungkin membunuh anak-anak mereka selama episode psikotik.
Seperti yang terjadi pada 2017 misalnya, pengadilan menemukan Raina Thaiday dari Queensland, yang membunuh tujuh anak dan keponakannya, telah mengalami episode psikotik parah yang terkait dengan skizofrenia yang dipicu oleh penggunaan ganja dalam jangka panjang. Pengadilan pun memutuskan dia tidak dapat dinyatakan bertanggung jawab secara pidana atas pembunuhan massal itu.
Perempuan yang membunuh anak-anaknya juga cenderung punya keyakinan yang salah, bahwa dengan kematian, anak-anaknya tidak akan menderita—seperti oleh kehilangan orang tua karena bunuh diri.
Sementara itu, ayah yang membunuh anak-anaknya cenderung memiliki riwayat KDRT. Pelaku laki-laki cenderung membunuh buah hatinya karena balas dendam terhadap pasangan atau mantan pasangan dalam konteks perpisahan dalam keluarga.