Putin Ancam Cekik Raksasa Teknologi AS: Balas Dendam Ekonomi ala Rusia?

Anton Suhartono
Vladimir Putin kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap perusahaan-perusahaan asing, khususnya raksasa teknologi AS (Foto: AP)

Pernyataan Putin kali ini tidak hanya menyoroti keberadaan layanan itu, tapi juga menjadi simbol perlawanan ekonomi terhadap tekanan Barat. Di mata Putin, perusahaan-perusahaan ini dianggap tetap meraup keuntungan tanpa menunjukkan komitmen terhadap kepentingan Rusia.

Mengakhiri Ketergantungan Teknologi Barat?

Putin juga menyerukan agar warga Rusia tidak terus bergantung pada layanan teknologi asing, khususnya dari Barat. Seruan ini sejalan dengan upaya pemerintah Rusia dalam beberapa tahun terakhir untuk mendorong kemandirian digital, termasuk pengembangan sistem operasi, platform komunikasi, dan layanan cloud lokal.

Namun, mengganti dominasi Microsoft dan Zoom bukan perkara mudah. Keduanya memiliki basis pengguna luas, termasuk di kalangan pemerintahan, bisnis, dan pendidikan. Blokade total bisa berdampak pada produktivitas dan konektivitas, terutama jika belum tersedia pengganti yang sepadan.

Tak Hanya Teknologi: Restoran AS Juga Jadi Sasaran

Tak berhenti di sektor teknologi, Putin juga menegaskan sikapnya terhadap jaringan restoran cepat saji asal AS yang sebelumnya hengkang dari Rusia. Ia menyatakan tidak akan memberi izin bagi mereka untuk kembali beroperasi.

“Mereka membuat semua orang dalam kondisi sulit, melarikan diri, dan sekarang jika mereka ingin kembali, haruskah kita membuka jalan bagi mereka? Tentu saja tidak,” ujarnya.

Rusia Klaim Ekonomi Tetap Tumbuh

Meski menghadapi sanksi dan ditinggalkan oleh banyak investor asing, Putin mengklaim ekonomi Rusia tetap tumbuh kuat. Ia menyebut ekonomi negaranya kini berada di posisi keempat dunia dalam hal paritas daya beli, dengan pertumbuhan 4,1% pada 2023 dan 4,3% pada 2024.

Sektor-sektor seperti industri, pertanian, teknologi digital, layanan, dan keuangan diklaim mengalami pertumbuhan signifikan. Meski demikian, banyak pengamat global mempertanyakan validitas data ekonomi resmi Rusia, mengingat terbatasnya transparansi dan keterbukaan informasi.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Profil Jet Tempur Tupolev Tu-160M Rusia, Pengebom Nuklir Canggih Pernah Dijajal Putin

57 tahun lalu

Gencatan Senjata Paskah Kacau, Rusia dan Ukraina Saling Gempur hingga Ribuan Kali

57 tahun lalu

Waduh! Ukraina Harus Relakan Wilayahnya Direbut Rusia untuk Sepakati Perjanjian Damai

57 tahun lalu

Diam-Diam Pemerintahan Trump Kontak Oposisi Israel, Ingin Singkirkan Netanyahu?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal