Dia juga tercatat sebagai salah satu dari sedikit perempuan di Israel yang berhasil meraih pangkat mayor jenderal, prestasi langka dalam sistem militer yang masih didominasi laki-laki.
Skandal Video Penyiksaan
Kasus yang menjerat Yerushalmi bermula dari insiden di Sde Teiman, fasilitas penahanan militer di Israel selatan. Pada Juli 2024, sejumlah tentara Israel dilaporkan menyiksa seorang tahanan Palestina. Rekaman video dari kamera pengawas memperlihatkan adegan pemukulan brutal, penggunaan setrum, hingga dugaan kekerasan seksual terhadap tahanan.
Video itu kemudian bocor ke media Israel pada Agustus 2024, memicu kemarahan publik dan kecaman internasional.
Pemerintah Israel awalnya menyebut kebocoran itu sebagai “pelanggaran serius terhadap keamanan nasional”, sementara banyak kelompok HAM menilai video tersebut sebagai bukti otentik kekejaman militer terhadap warga Palestina.
Pengakuan Mengejutkan
Di tengah kontroversi, Yerushalmi mengaku bahwa dialah yang menyetujui pelepasan video tersebut ke publik.
Dia berdalih, langkah itu diambil untuk “membantah tuduhan palsu” bahwa militer Israel menutup-nutupi kekerasan terhadap tahanan. Namun, tindakannya justru dianggap sebagai pelanggaran kerahasiaan negara dan penyalahgunaan jabatan.
Akibat pengakuan itu, Yerushalmi mengundurkan diri dari jabatannya pada 31 Oktober 2025, beberapa hari kemudian ditangkap polisi atas beberapa tuduhan, yakni: