Hamas dan Fatah memang sudah berselisih selama bertahun-tahun. Kedua kelompok ini bahkan terlibat dalam perang saudara singkat pada 2007 ketika Hamas akhirnya merebut kekuasaan di Gaza, meskipun organisasi-organisasi Palestina yang bersaing terus mengadakan perundingan secara berkala.
Namun jika menyangkut konflik dengan Israel, Arouri dipandang sebagai sosok garis keras. Dia membantu mendirikan sayap militer Hamas, Brigade Izz el-Deen al-Qassam atau biasa disingkat Brigade al-Qassam. Israel pun menuduhnya mendalangi serangan mematikan terhadap zionis selama bertahun-tahun.
Dikatakan bahwa dia berada di balik penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel di Tepi Barat pada 2014, sebuah tindakan yang memicu serangan Israel selama tujuh minggu di Gaza yang menewaskan 2.100 warga Palestina.
Ketika pendudukan Israel di Tepi Barat terus berlanjut, dengan perluasan pemukiman Yahudi dan semakin jauhnya status negara Palestina, Arouri mengatakan tidak ada pilihan lain bagi Hamas selain terlibat dalam “perlawanan komprehensif” terhadap Israel. Dia adalah salah satu pejabat senior Hamas di balik ekspansi kuat kelompok tersebut ke Tepi Barat, tempat orang-orang bersenjata melakukan serangkaian serangan terhadap pemukim Israel selama 18 bulan terakhir.
Ketika pemimpin Hamas di Gaza Yahya Sinwar, Mohammed Deif dan Marwan Issa bersembunyi, Arouri terlibat erat dalam negosiasi seputar perang yang berlangsung di wilayah kantong Palestina itu sejak 7 Oktober lalu. Pada Desember, dia mengatakan bahwa tidak ada lagi tawanan Israel yang akan dibebaskan sampai ada gencatan senjata penuh di Jalur Gaza.